Aturan dan Dasar Islam untuk Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan

Sama layaknya puasa bulan Ramadhan adalah pilar Islaam, kriteria yang menandai awal dan akhir Ramadhan juga ditetapkan oleh Islaam. Bulan sabit menandai awal tiap-tiap bulan lunar di Islaam, layaknya yang dinyatakan Allah dalam Al-Qur’an dalam apa yang sanggup diterjemahkan sebagai, “Mereka bertanya kepadamu [O Muhammad] berkenaan bulan sabit, Katakanlah, ‘Mereka adalah ukuran waktu untuk orang-orang dan untuk naik haji . ‘”[ Surat Al-Baqarah, ayat 189 ]

Saya akan mengkaji masalah ini dalam poin-poin berikut:

Menyebutkan Ahaadeeth asli Nabi ﷺ yang menyatakan kepada kita langkah yang sah dalam tunjukkan awal dan akhir bulan ini.
Ringkasan berkenaan apa yang sudah bimbingan baca quran online untungkan Ahaadeeth bagi kita dalam menanggulangi masalah ini.
Apa sudut pandang Shara ‘/ sudut pandang yang sah dalam memastikan awal dan akhir bulan ini tergantung terhadap perhitungan?
Ucapan beberapa ulama Muslim berkenaan mengandalkan perhitungan untuk memastikan awal bulan.
Sudut pandang Shara berkenaan pandangan tidak serupa dari bulan sabit, dan ucapan para ulama berkenaan itu.
Pertama: Ahaadeeth asli dari nabi ﷺ

Abu Hurairah ﷸ ﷷ meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berkata, “Cepat setelah Anda melihatnya [bulan sabit baru] dan akhiri puasa [pada akhir bulan] saat Anda melihatnya. Jika tersembunyi dari Anda, maka menunggu sampai tiga puluh hari Sya’baan sudah berlalu. ” [Direkam oleh Imam al-Bukhari dan Muslim]
Dalam versi lain hadits yang direkam oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasul ﷺ berkata: “Jangan berpuasa sampai kamu melihatnya, dan jangan berbuka sampai kamu melihatnya, dan jika kamu tidak sanggup melihatnya, lanjutkan Sha ‘ baan sampai tiga puluh hari. ”
Putra Umar ﷸ ﷷ menceritakan bahwa Nabi berkata: “Bulan itu adalah 29 hari, menjadi jangan berpuasa sampai Anda melihatnya, dan jika Anda tidak sanggup melihatnya, lengkapi bulannya; lanjutkan Sha’baan sampai tiga puluh hari.” [Direkam oleh Imam Muslim dan Ahmad]
Aisyah menceritakan bahwa Nabi ﷺ terlampau berhati-hati melihat bulan sabit Sha’ban di mana dia tidak demikianlah sepanjang beberapa bulan lainnya, dan dia biasa berpuasa Ramadhan saat dia melihat bulan sabit, dan jika dia tidak bisa, dia akan menghitung tiga puluh hari dan cepat. [Ini direkomendasi oleh Imaam Ad-Daareqtni dengan chean asli? sesuai dengan situasi muslim]
Putra Umar ﷸ ﷷ berkata: “Orang-orang melihat untuk melihat bulan sabit, menjadi aku menyatakan kepada Rasulullah ﷻ bahwa aku sudah melihatnya, menjadi Nabi berpuasa dan memerintahkan orang untuk berpuasa.” [Ini direkam oleh Imam Abu Dawud dan Ibn Habbaan memperbaikinya; Al-Haakim mengatakan: ini adalah hadis otentik sesuai dengan situasi Muslim]
Ibn Abbaas ﷸ ﷷ berkata: “Seorang Badui datang kepada utusan Allah ﷻ dan berkata: ‘Saya sudah melihat bulan sabit Ramadaan,’ menjadi Nabi berkata: ‘Apakah Anda melihat bahwa tidak ada Tuhan tak hanya Allah?’ Orang Badui berkata, “Ya!” Nabi berkata, “Apakah Anda melihat bahwa Muhammad adalah Utusan Allah?” Orang Badui berkata, “Ya!” Kemudian Nabi berharap Bilaal untuk memberitahu orang-orang untuk berpuasa terhadap hari berikutnya. ” [Direkam oleh Imam Abu Dawud, Tirmedhi, Ibn Habbaan dan Al-Haakim memperbaikinya]
Kedua: Ringkasan kegunaan yang di terima oleh orang-orang Ahaadeth adalah bahwa langkah yang sah dalam memastikan awal bulan Ramadhan dan Syawaa’l tidak melebihi dua cara:

Melihat bulan sabit baru.
Untuk melengkapi bulan sampai tiga puluh hari jika kita tidak sanggup melihatnya dikarenakan alasan apa pun.
Anda wajib menyimak bahwa dunia ” melihatnya ” sudah diulang dalam semua Ahaadeeth yang disebutkan pada mulanya yang tunjukkan bahwa kita berpuasa dan mengakhiri puasa untuk melihat bulan sabit baru dan bukan untuk keberadaannya. Jadi bulan sabit barangkali ada dalam kenyataan, tapi kita tidak sanggup melihatnya dengan mata dikarenakan alasan apa pun, menjadi kita tidak berpuasa atau mengakhiri puasa dan inilah yang disepakati semua ilmuwan.
Ketiga: Apa sudut pandang Shara untuk memastikan awal dan akhir bulan tergantung terhadap perhitungan? Dari apa yang sudah disebutkan sebelumnya, kita menemukan bahwa metode ini tidak sah untuk tunjukkan awal dan akhir bulan ini dikarenakan alasan berikut:

Karena itu tidak setuju dengan apa yang sudah dinyatakan dalam Ahaadeeth asli Nabi ﷺ yang tergantung terhadap dua langkah untuk memastikan awal dan akhir bulan: Melihat dan merampungkan bulan sampai 30 hari.
Karena itu adalah proses tertentu yang tidak sanggup dilakukan oleh semua umat Islam, maka tidak barangkali Allaah ﷻ bertanya kepada umat Islam, yang tidak serupa dalam kemampuan dan tingkat pendidikan mereka, sebuah ibadah yang langkah untuk memastikan awal dan kelanjutannya adalah masalah tertentu yang dianut dalam sebuah grup dan tidak ada untuk mereka semua.
Karena tidak pikirkan seberapa tertentu proses ini, itu tidak sanggup menjadi penentu, dan kesalahan sanggup terjadi layaknya yang di informasikan oleh para sarjana di bidang ini, bidang Astronomi.
Keempat: Perkataan para pakar hukum Islam berkenaan memastikan awal dan akhir bulan dengan mengandalkan perhitungan:

Para pakar hukum Islam sudah setuju bahwa langkah ini tidak benar, dan di sini mengikuti beberapa perkataan mereka yang sudah ada bagi saya:
Sekolah Imaam Abu Hanifah mengatakan: ‘Itu tidak sanggup tergantung terhadap seseorang yang bekerja dengan perhitungan dan waktu yang ditetapkan dalam memastikan bulan dikarenakan dia tidak setuju dengan langkah Nabi ﷺ’ (Al-Fiqh-u-lislaamy-wa ‘ delatah Oleh Dr. Whbah Az-Zuhayli vol 2, hal.599)
Imaam Maalik mengatakan: Pandangan bulan sabit tidak sanggup ditegaskan dengan perkataan seseorang yang menghitung aliran situasi hati dan orbitnya bukan untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain dikarenakan Allah, sang Legislator, melakukan puasa dan mengakhiri puasa dengan mengandalkan vie bulan sabit tidak terhadap keberadaannya; ini lebih-lebih jika orang yang melakukan perhitungan itu benar. Jadi pekerjaan dengan observatorium astronomi lebih-lebih jika mereka benar tidak diperbolehkan. (Al-Fiqh-u-lislaamy-wa’delatah Oleh Dr. Whbah Az-Zuhayli vol 2, hal. 600)
Imaam Ibn Hanbal mengatakan: “Kita tidak boleh berpuasa sesuai dengan bintang-bintang dan perhitungan lebih-lebih jika mereka benar, dikarenakan berulang-kali mereka tidak tergantung terhadap basic yang sah. (Al-Fiqh-u-lislaamy-wa’delatah Oleh Dr. Whbah Az-Zuhayli vol 2, hal.602)
Kelima: Apakah satu penampakan bulan sabit baru lumayan untuk semua umat Islam, atau haruskah masing-masing lokasi tergantung terhadap penampakan mereka sendiri?

Sebagian besar pakar hukum Islam sudah mengadopsi pendapat bahwa tiap-tiap penampakan bulan sabit baru, di mana saja di dunia, dianggap sah dan sanggup di terima untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Para pakar hukum ini meliputi: Imaam Abu Hanifah, Imaam Maalik dan Imaam Ahmad Ibn Hanbal. Dengan kata lain, jika bulan sabit baru muncul di mana pun di dunia, menjadi kewajiban bagi semua Muslim untuk mengawali puasa, layaknya yang dikatakan Nabi ﷺ, “Cepat setelah Anda melihatnya [bulan sabit baru] dan akhiri puasa [di hari akhir bulan] saat Anda melihatnya. ” Hadits ini adalah pidato umum yang bertujuan untuk semua umat Islam. Artinya, jika ada yang melihat bulan sabit baru di sembarang tempat, maka ini akan menjadi penampakan yang sahih bagi semua umat Islam.

Ucapan para pakar hukum Islam berkenaan masalah ini:
(Dari buku Al-Fiqh-u-lislaamy-wa’delatah Oleh Dr. Whbah Az-Zuhayli vol.2, hal. 606)
Cendekiawan Hanaafi bicara 1 : “Perbedaan lokasi penampakan bulan, dan penampakan bulan terhadap siang hari apakah sebelum saat sedang hari atau setelah itu tidak dianggap dalam hal menentukan awal atau akhir bulan. Ini sesuai dengan pendapat mayoritas di Hanaafi School Ini juga merupakan pendapat yang dilihat oleh beberapa besar ulama Hanaafi, dan juga merupakan pendapat yang diikuti dalam beri tambahan fatwa. Oleh dikarenakan itu, orang-orang dari timur berkewajiban untuk mengikuti pengamatan bulan baru dari orang-orang barat jika itu adalah tunjukkan bahwa mereka sudah melihat bulan dengan nada dan langkah yang mengikat, layaknya saat dua orang bersaksi bahwa mereka sudah melihat bulan baru, atau jika mereka bersaksi berkenaan penghakiman Hakim, atau jika berita berkenaan penampakan bulan menjadi terkenal bagi semua orang.Ini tidak berlaku untuk masalah saat seseorang melaporkan bahwa orang-orang dari kota ini dan itu sudah melihat bulan baru, dikarenakan ini dianggap sebagai pidato yang dilaporkan.
Para ulama Maaliki menyatakan 2 : “Jika bulan sabit muncul di suatu tempat, orang wajib berpuasa di mana-mana, apakah mereka tinggal dekat atau jauh. Orang tidak wajib mempertimbangkan dalam hal ini jarak yang dibutuhkan untuk mempersingkat doa atau kesatuan dalam melihat tempat atau Oleh dikarenakan itu, puasa wajib bagi tiap-tiap orang yang diberi mengetahui berkenaan penampakan bulan sabit jika penampakan ini dilaporkan oleh dua saksi yang sanggup dipercaya atau sekelompok besar orang.
Para ulama Hanbali menyatakan 3 : “Jika bulan sabit sudah muncul di tempat tertentu, baik itu dekat atau jauh, semua orang wajib berpuasa. Hukum orang yang tidak melihat bulan sabit serupa dengan yang ada terhadap bulan sabit. orang yang sudah melihatnya.
Apakah satu penampakan bulan sabit baru lumayan untuk semua umat Islam, atau haruskah masing-masing lokasi tergantung terhadap penampakan mereka sendiri?

Sebagian besar pakar hukum Islam sudah mengadopsi pendapat bahwa tiap-tiap penampakan bulan sabit, di mana pun di dunia, dianggap sah dan sanggup di terima untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Para pakar hukum ini meliputi: Hanafi, Maalikis, dan Hanbalis. Dengan kata lain, jika bulan sabit muncul di mana pun di dunia, menjadi kewajiban bagi semua Muslim untuk mengawali puasa, layaknya yang dikatakan Nabi ﷺ, “Cepat setelah Anda melihatnya [bulan sabit] dan akhiri puasa [di hari akhir bulan] saat Anda melihatnya. ” Hadits ini adalah pidato umum yang bertujuan untuk semua umat Islam. Artinya, jika ada yang melihat bulan sabit baru di sembarang tempat, maka ini akan menjadi penampakan yang sahih bagi semua umat Islam.

Namun Imaam Shaafi’i menyatakan bahwa tiap-tiap tempat wajib memiliki penampakan mereka sendiri, dan mereka tidak berkewajiban untuk mengadopsi penampakan dari lokasi lain. Dia mengfungsikan yang selanjutnya sebagai bukti: Setelah menjadi keliru satu sahabat, Kuraib meriwayatkan bahwa Um Ul-Fadl sudah mengirimnya untuk berkunjung ke Muaa’wia di As-Shaam (Suriah). Dia berkata: ‘Saya pergi ke As-Shaam dan mencapai obyek kunjungan saya, dan saat aku berada di sana, Ramadaan dimulai; Saya sudah melihat bulan sabit terhadap Kamis malam, dan kemudian lagi ke Madinah terhadap akhir bulan. Ibn Abbaas menyebut bulan sabit bertanya, “Kapan kamu melihat bulan sabit?” Saya menjawab: “Kami melihatnya terhadap Kamis malam.” Ibn Abbaas kemudian bertanya: ‘Kuraib, apakah kamu melihatnya?’ Saya menjawab: ‘Ya! Dan orang-orang sudah melihatnya, dan mereka berpuasa, demikianlah pula Muaa’wia. ‘ Jadi Ibn Abbaas berkata: ‘ Tapi kita sudah melihatnya Jumat malam, menjadi kita akan berpuasa sampai kita merampungkan tiga puluh hari atau sampai kita melihat bulan sabit. Saya kemudian bertanya, “Apakah Anda tidak suka dengan penampakan Muaa’wia dan puasanya?” Ibn Abbaas menjawab, ‘Tidak, inilah yang diperintahkan Rasulullah untuk kita lakukan. [Direkam oleh Imam Muslim, dan lainnya]

Perhatikan dari hadits pada mulanya , bahwa Kuraib tiba di Madinah terhadap akhir bulan Ramadhan. Ini perlu dikarenakan Ibn Abbass dan kaum Muslim di Madinah tidak memiliki pengetahuan berkenaan penampakan Mu’awia, dan dikarenakan itu, mereka tidak memiliki pilihan tak hanya melanjutkan puasa mereka berdasarkan penampakan mereka sendiri. Namun, dalam penduduk waktu ini, komunikasi terlampau maju dan cepat. Berita penampakan di tempat mana pun di dunia sanggup menghubungi kita sebelum saat fajarwaktu, tepat sebelum saat kita mengawali puasa. Tidak ada yang sanggup mengklaim hari ini bahwa Ibn Abbass sudah diberitahu berkenaan penampakan sebelum saat fajar bahwa ia tidak akan mengikutinya dan berpuasa dengan dengan orang-orang As-Shaam. Dengan demikian, hadis pada mulanya ini tidak berlaku untuk penduduk waktu ini, dikarenakan komunikasi yang cepat tidak ada terhadap waktu itu layaknya waktu ini.

Para pengikut Imaam Shaafi’I lebih lanjut menentukan jarak yang tepat pada lokasi mengatakan: Jika bulan sabit muncul di tempat tertentu, maka tempat di lokasi ini wajib terima penampakan ini, namun, tempat-tempat di luar lokasi ini tidak diwajibkan. . Siapa pun yang tinggal di dalam tempat yang membentang 133.056 km dari lokasi penampakan asli wajib mengikuti penampakan tempat itu. Jarak ini dihitung dengan mengalikan dua puluh empat unit jarak dengan 5.544 meter, yang setara dengan 133.056 km. Dengan kata lain, semua yang tinggal dalam rentang 133 km ini, wajib mengikuti pengamatan.

Leave a Comment