Hukum Aqiqah perspekstif sejarah aqiqah

Hukum Aqiqah perspekstif sejarah aqiqah – Ulama-ulama masyhur memilik pandangan yang berbeda menetapkan hukum aqiqah.

Perbedaan pandangan ini muncul karena adanya perbedaan pemahaman tafsir hadis-hadis yang berkenaan dengan persoalan ini.

Aqiqah dihukumi wajib menurut sebagian ulama dan ada pula yang sunah muakkadah (sangat utama).

Ulama Zahiriyah berpandangan bahwa melaksanakan aqiqah itu wajib bagi tiap orang tua yang menanggung nafkah si anak. Dasar hukum yang digunakan adalah hadis Rasul SAW riwayat Ahmad dan Tirmidzi.

Berikut haditsnya:

“Anak yang baru lahir itu tergadai dengan aqiqahnya, (sampai ia) disembelihkan (hewan) pada hari ketujuh dari hari kelahirannya, dan saat itu juga baiknya cukur rambutnya lalu diberi nama.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Sementara ulama jumhur (mayoritas) berpandangan, aqiqah itu hukumnya sunnah muakkadah atau sunnah yang sebaiknya dikerjakan catering aqiqah jakarta .

Jumhur ulama ini meliputi pandangan Imam Malik, Imam Syafii , termasuk para pengikutnya, ulama Madinah, Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Saur, Ishaq, dan sejumlah ahli fikih serta mujtahid (ahli ijtihad).

Pendapat ini dasarmya sabda Nabi SAW , “Barang siapa di antara kamu ingin bersedekah buat anaknya, bolehlah ia berbuat.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasai).

Di sisi lain, para ahli fikih (fukaha) yang bermadzhab Abu Hanifah (Imam Hanafi) berpandangan bahwa aqiqah itu tidak wajib dan tidak sunnah.

Melainkan adalah ibadah tatawwu’ (sukarela). Pendapat ini landasannya adalah hadis Nabi SAW: “Aku tidak suka sembelih-sembelihan (aqiqah). Namun, barang siapa diamanahi seorang anak, kemudian ia hendak menyembelih hewan bagi anaknya itu, maka ia dipersilakan melakuka itu” (HR al-Baihaki).

Leave a Comment